Tampilkan postingan dengan label BrokenHome. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BrokenHome. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2015

Gangguan kejiwaan bagi seseorang broken home

.  BrokenHeart
Sipemuda merasakan kepedihan dan kehancuran
hati sehingga memandang hidup inisia-sia dan
mengecewakan. Kecenderungan ini membentuk si
pemuda tersebutmenjadi orang yang krisis kasih
dan biasanya lari kepada yang bersifat
keanehansexual. Misalnya sex bebas, homo sex,
lesbian, jadi simpanan orang, tertarikdengan istri
atau suami orang lain dan lain-lain.
2.  BrokenRelation
Sipemuda merasa bahwa tidak ada orang yang
perlu di hargai, tidak ada orang yangdapat
dipercaya serta tidak ada orang yang dapat
diteladani. Kecenderungan inimembentuk si pemuda
menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang
lain, ugal-ugalan,cari perhatian, kasar, egois, dan
tidak mendengar nasihat orang lain,
cenderung“semau gue”.
3.  BrokenValues
Sipemuda kehilangan ”nilai kehidupan” yang benar.
Baginya dalam hidup ini tidakada yang baik, benar,
atau merusak yang ada hanya yang
”menyenangkan” dan yang”tidak menyenangkan”,
“pokoknya apa saja yang menyenangkan saya
lakukan, apayang tidak menyenangkan tidak saya
lakukan.”

DampakBroken Home terhadap Perkembangan

Kejiwaan Anak
Dampak pada anak-anak pada
masa ke tidak harmonisan, belum sampai bercerai
namun sudah mulai tidak harmonis:
1.  Anak mulai menderita kecemasan yangtinggi
dan ketakutan.
2.  Anak merasa jerjepit ditengah-tengah, karena
harus memilih antara ibu atau ayah.
3.  Anak sering kali mempunyai rasabersalah.
4.  Kalau kedua orangtuanya sedangbertengkar, itu
memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang
tuanya.
Dalam rumah tangga yang tidak sehat,yang
bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-
pertengkaran bisa muncul 3kategori anak:
1.  Anak-anak yang memberontak yangmenjadi
masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga
yang bercerai itu menjadisangat nakal sekali.
2. Selain itu, anak korban perceraianjadi gampang
marah karena mereka terlalu sering melihat orang
tua bertengkar.Namun kemarahan juga bisa muncul
karena:
·        Diaharus hidup dalam ketegangan dan dia
tidak suka hidup dalam ketegangan.
·        Diaharus kehilangan hidup yang tenteram,
yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanyakok
memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
·        Waktuorang tua bercerai, anak kebanyakan
tinggal dengan mama, itu berarti ada
yangterhilang dalam diri anak yakni figur otoritas,
figur ayah.
3.  Anak-anak yang bawaannya sedih,mengurung
diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa
kehilangan identitas sosialnya.

Ciri-ciri keluarga broken home

Berdasarkanbeberapa asumsi dalam literatur,
penulis menemukan bahwa keluarga broken
home bukan hanya keluargadengan kasus perceraian
saja. Keluarga brokenhome secara keseluruhan
berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibusebagai
orang tua tidak berjalan baik secara fungsional.
Fungsi orang tua padadasarnya adalah sebagai agen
sosialisasi nilai-nilai baik-buruk, sebagai
motivatorprimer bagi anak, sebagai tempat anak
untuk mendapatkan kasih sayang, dansebagainya.
Jika fungsi orang tua ini terhambat, maka aspek-
aspek khusus dalamkeluarga bisa dimungkinkan tak
terjadi.
Padahakikatnya, anak membutuhkan orang tuanya
untuk mengembangkan kepribadian yangsehat. Pada
masa remaja, berdasarkan asumsi Erickson. Remaja
memerlukan figur tertentu yang nantinya
bisamenjadi figure sample dalaminternalisasi nilai-
nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran
orang tuasebagaimana mestinya, maka hal ini bisa
terhambat. Proses pencarian identitasdalam kondisi
serupa ini bisa jadi meriam bagi remaja itu. Remaja
itudimungkinkan membentuk kerpibadian yang
kurang sehat dengan perasaanterisolasi. Proses
pencarian identitas akan terhambat dan
menimbulkan rasa kebingunganidentitas .
Penambahan juga, remaja itu mungkin bisa
mengembangkanperilaku yang delinquency,
ataubahkan patologis. Jika keadaan keluarga yang
broken home itu dirasakannya sangat menekan
dirinya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yeri
Abdillah (2003) dalam penelitiannya, menyimpulkan
bahwaagresivitas pada remaja dalam
keluarga broken home mempunyai taraf lebih tinggi
daripada rekannyayang tidak mengalami
kasus brokenhome.
Masih banyakkasus lagi yang mungkin dirasakan
anak dalam keluarga broken home. Efeknya akan
lebihterasa jika anak berada dalam masa remaja.
Jika dianalisis lebih lanjut keadaan broken
home bisa memperburukkeadaan remaja itu.
Keadaan itu akan diartikan sebagai tekanan yang
bisamenjadi sumber awal penyebab patologis sosial.
Munculnya masalahbroken home menimbulkansuatu
perasaan menyesal pada remaja, dan
melakukan identifikasi ulang.
Ketiadaannyadukungan sosial menyebabkan
kurangnya alternatif masukan bagi remaja itu
untukmelakukan reidentifikasinya. Orang tua yang
semulanya menjadi teladan, akandianggap sebagai
pembawa petaka baginya. Dari asumsi ini muncullah
rasaketidakpercayaan pada diri remaja itu.
Munculnya rasa ketidakpercayaan inimenyebabkan
cinta kepada orang tuanya semakin menipis atau
berkurang. Kelekatandengan orang tua semakin
kecil, sehingga asumsi-asumsi negatif kepada orang
tuamulai muncul. Dari asumsi itu muncullah asumsi
bahwa orang tuanya sudah tidakmenyayanginya
lagi. Perkuatan muncul apabila tidak adanya
perhatian secarafisikal yang ditujukan pada remaja
itu.