Senin, 18 Mei 2015

Cara membangkitkan motivasi anak korban broken home

Bagi anak-anak mempunyai keluarga yangutuh
adalah hal yang sangat membahagiakan. Mereka
tidak pernah membayangkanbahwa akan mengalami
sebuah perceraian dalam keluarganya. Keadaan
psikologi anakakan sangat terguncang karena
adanya perceraian dalam keluarga. Mereka
akansangat terpukul, kehilangan harapan, dan
cenderung menyalahkan diri sendiriatas apa yang
terjadi pada keluarganya. Sangat sulit menemukan
cara agaranak-anak merasa terbantu dalam
menghadapi masa-masa sulit karena
perceraianorang tuanya. Sekalipun ayah atau ibu
berusaha memberikan yang terbaik yangmereka
bisa, segala yang baik tersebut tetap tidak dapat
menghilangkankegundahan hati anak-anaknya.
Beberapa psikolog menyatakan bahwabantuan yang
paling penting yang dapat diberikan oleh orang tua
yang berceraiadalah mencoba menenteramkan hati
dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka
tidakbersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu
merasa harus ikut bertanggung jawabatas
perceraian orangtuanya. Hal lain yang perlu
dilakukan oleh orang tua yangakan bercerai adalah
membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri
dengan tetapmenjalankan kegiatan-kegiatan rutin
di rumah. Jangan memaksa anak-anak
untukmemihak salah satu pihak yang sedang
cekcok, dan jangan sekali-sekalimelibatkan mereka
dalam proses perceraian tersebut. Hal lain yang
dapatmembantu anak-anak adalah mencarikan
orang dewasa lain seperti bibi atau paman,yang
untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati
mereka setelah ditinggalayah atau ibunya.
Maksudnya, supaya anak-anak merasa mendapatkan
topangan yangmemperkuat mereka dalam mencari
figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi
hadirseperti ketika belum ada perceraian.

Gangguan kejiwaan bagi seseorang broken home

.  BrokenHeart
Sipemuda merasakan kepedihan dan kehancuran
hati sehingga memandang hidup inisia-sia dan
mengecewakan. Kecenderungan ini membentuk si
pemuda tersebutmenjadi orang yang krisis kasih
dan biasanya lari kepada yang bersifat
keanehansexual. Misalnya sex bebas, homo sex,
lesbian, jadi simpanan orang, tertarikdengan istri
atau suami orang lain dan lain-lain.
2.  BrokenRelation
Sipemuda merasa bahwa tidak ada orang yang
perlu di hargai, tidak ada orang yangdapat
dipercaya serta tidak ada orang yang dapat
diteladani. Kecenderungan inimembentuk si pemuda
menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang
lain, ugal-ugalan,cari perhatian, kasar, egois, dan
tidak mendengar nasihat orang lain,
cenderung“semau gue”.
3.  BrokenValues
Sipemuda kehilangan ”nilai kehidupan” yang benar.
Baginya dalam hidup ini tidakada yang baik, benar,
atau merusak yang ada hanya yang
”menyenangkan” dan yang”tidak menyenangkan”,
“pokoknya apa saja yang menyenangkan saya
lakukan, apayang tidak menyenangkan tidak saya
lakukan.”

DampakBroken Home terhadap Perkembangan

Kejiwaan Anak
Dampak pada anak-anak pada
masa ke tidak harmonisan, belum sampai bercerai
namun sudah mulai tidak harmonis:
1.  Anak mulai menderita kecemasan yangtinggi
dan ketakutan.
2.  Anak merasa jerjepit ditengah-tengah, karena
harus memilih antara ibu atau ayah.
3.  Anak sering kali mempunyai rasabersalah.
4.  Kalau kedua orangtuanya sedangbertengkar, itu
memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang
tuanya.
Dalam rumah tangga yang tidak sehat,yang
bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-
pertengkaran bisa muncul 3kategori anak:
1.  Anak-anak yang memberontak yangmenjadi
masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga
yang bercerai itu menjadisangat nakal sekali.
2. Selain itu, anak korban perceraianjadi gampang
marah karena mereka terlalu sering melihat orang
tua bertengkar.Namun kemarahan juga bisa muncul
karena:
·        Diaharus hidup dalam ketegangan dan dia
tidak suka hidup dalam ketegangan.
·        Diaharus kehilangan hidup yang tenteram,
yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanyakok
memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
·        Waktuorang tua bercerai, anak kebanyakan
tinggal dengan mama, itu berarti ada
yangterhilang dalam diri anak yakni figur otoritas,
figur ayah.
3.  Anak-anak yang bawaannya sedih,mengurung
diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa
kehilangan identitas sosialnya.

Ciri-ciri keluarga broken home

Berdasarkanbeberapa asumsi dalam literatur,
penulis menemukan bahwa keluarga broken
home bukan hanya keluargadengan kasus perceraian
saja. Keluarga brokenhome secara keseluruhan
berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibusebagai
orang tua tidak berjalan baik secara fungsional.
Fungsi orang tua padadasarnya adalah sebagai agen
sosialisasi nilai-nilai baik-buruk, sebagai
motivatorprimer bagi anak, sebagai tempat anak
untuk mendapatkan kasih sayang, dansebagainya.
Jika fungsi orang tua ini terhambat, maka aspek-
aspek khusus dalamkeluarga bisa dimungkinkan tak
terjadi.
Padahakikatnya, anak membutuhkan orang tuanya
untuk mengembangkan kepribadian yangsehat. Pada
masa remaja, berdasarkan asumsi Erickson. Remaja
memerlukan figur tertentu yang nantinya
bisamenjadi figure sample dalaminternalisasi nilai-
nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran
orang tuasebagaimana mestinya, maka hal ini bisa
terhambat. Proses pencarian identitasdalam kondisi
serupa ini bisa jadi meriam bagi remaja itu. Remaja
itudimungkinkan membentuk kerpibadian yang
kurang sehat dengan perasaanterisolasi. Proses
pencarian identitas akan terhambat dan
menimbulkan rasa kebingunganidentitas .
Penambahan juga, remaja itu mungkin bisa
mengembangkanperilaku yang delinquency,
ataubahkan patologis. Jika keadaan keluarga yang
broken home itu dirasakannya sangat menekan
dirinya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yeri
Abdillah (2003) dalam penelitiannya, menyimpulkan
bahwaagresivitas pada remaja dalam
keluarga broken home mempunyai taraf lebih tinggi
daripada rekannyayang tidak mengalami
kasus brokenhome.
Masih banyakkasus lagi yang mungkin dirasakan
anak dalam keluarga broken home. Efeknya akan
lebihterasa jika anak berada dalam masa remaja.
Jika dianalisis lebih lanjut keadaan broken
home bisa memperburukkeadaan remaja itu.
Keadaan itu akan diartikan sebagai tekanan yang
bisamenjadi sumber awal penyebab patologis sosial.
Munculnya masalahbroken home menimbulkansuatu
perasaan menyesal pada remaja, dan
melakukan identifikasi ulang.
Ketiadaannyadukungan sosial menyebabkan
kurangnya alternatif masukan bagi remaja itu
untukmelakukan reidentifikasinya. Orang tua yang
semulanya menjadi teladan, akandianggap sebagai
pembawa petaka baginya. Dari asumsi ini muncullah
rasaketidakpercayaan pada diri remaja itu.
Munculnya rasa ketidakpercayaan inimenyebabkan
cinta kepada orang tuanya semakin menipis atau
berkurang. Kelekatandengan orang tua semakin
kecil, sehingga asumsi-asumsi negatif kepada orang
tuamulai muncul. Dari asumsi itu muncullah asumsi
bahwa orang tuanya sudah tidakmenyayanginya
lagi. Perkuatan muncul apabila tidak adanya
perhatian secarafisikal yang ditujukan pada remaja
itu.

Pengertian dan Keadaan Keluarga Broken Home

Tidak luput dari kenyataan yang adabahwa semakin
hari semakin banyak keluarga yang mengalami
broken home. Beberapakasus diantaranya mungkin
disebabkan oleh perselingkuhan, perbedaan
prinsiphidup, atau sebab-sebab lainnya yang bisa
disebabkan oleh masalah internalmaupun eksternal
dari kedua belah pihak. Akan tetapi, yang jelas
kasus-kasusbroken home itu sama halnya dengan
kasus-kasus sosial lainnya, yaitu
sifatnyamultifaktoral. Satu hal yang pasti,
hubungan interpersonal diantara suami istridalam
keluarga broken home telah semakin memburuk.
Kedekatan fisikal jugamenjadi alasan bagi pasangan
suami istri dalam menyikapi masalah broken
home,meskipun dalam beberapa sumber disebutkan
bahwa kedekatan fisik tidakmempengaruhi
kedekatan personal antar individu. Inti dari
semuanya adalahkomunikasi yang baik
antarpasangan. Dalam komunikasi ini, berbagai
faktor kejiwaantermuat di dalamnya, sehingga
patut mendapat perhatian utama.
Memburuknya komunikasi diantara suamiistri ini
seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga
broken home. Olehsebab itu, sangatlah penting rasa
saling percaya, saling terbuka, dan salingsuka
diantara kedua pihak agar terjadi komunikasi yang
efektif. Dalam keadaanini, kematangan
kepribadianlah yang menentukan penerimaan peran
dari pasangankomunikasinya. Setiap individu
dilahirkan dengan tipe kepribadian yangberbeda-
beda oleh sebab itu saling pengertian
antarpasangan juga sangatlahpenting.
Dalam suasana keluarga yang brokenhome bukan
hanya komunikasi yang memburuk, tetapi juga
terdapat aspek yangtidak relevan dalam hubungan
itu, sehingga menyebabkan
berkurangnyaketertarikan antardiri pasangannya.
Lemahnya ketertarikan ini bisa berdampakpada
pengabaian sosial termasuk pengabaian afektif.
Dalam hal ini, dapatdiuraikan bahwa dalam keluarga
yang broken home antarpasangan terjadi
pelemahan rasasaling menilai secara positif, yang
terjadi penilaian menjadi cenderung negatifantara
satu pasangan dengan pasangannya.
Dari semua fenomena di atas, akan bisaberdampak
pada perkembangan kejiwaan anak dalam keluarga
itu. Remajalah yangdalam hal ini sangat rentan.
Masa remaja, seperti yang dikatakan
oleh Erickson bahwa masaremaja merupakan masa
pencarian identitas. Pengaruh
faktor brokenhome keluarga menjadifaktor negatif
dalam penemuan identitas yang sehat, sehingga
remaja cenderungmengalami fasekebingungan
identitas. Perkembangan afeksi juga bisa
mengalami hambatan.Hal ini dikarenakan adanya
pengabaian dari orangtuanya. Lebih jauh,
terdapatsifat-sifat penghambat perkembangan
kepribadian yang sehat yang terwujud
dalamkepribadian anak.
Ayah, ibu, dan anak adalah keluargainti yang
merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan
bermasyarakat. Padahakikatnya, keluarga
merupakan wadah pertama dan utama bagi
perkembangan danpertumbuhan anak. Di dalam
keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan
pertamamengenai berbagai tatanan kehidupan yang
ada di masyarakat. Keluargalah yangmengenalkan
anak akan aturan agama, etika sopan santun,
aturan bermasyarakat,dan aturan-aturan tidak
tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi
landasankepribadian anak dalam menghadapi
lingkungan. Keluarga juga yang akan
menjadimotivator terbesar yang tiada henti saat
anak membutuhkan dukungan dalammenjalani
kehidupan.
Namun, melihat kondisi masyarakat saatini, fungsi
keluarga sudah mulai tergeser keberadaannya.
Semua anggota keluargakhususnya orangtua
menjadi sibuk dengan aktivitas pekerjaannya
dengan alasanuntuk menafkahi keluarga. Peran
ayah sebagai kepala keluarga menjadi tidakjelas
keberadaannya, karena seringkali ayah zaman
sekarang bekerja di luar kotadan hanya pulang satu
minggu sekali ataupun pergi pagi dan pulang larut
malam.Ibulah yang menggantikan peran ayah di
rumah dalam mendidik serta mengaturseluruh
kepentingan anggota keluarganya.
Masalah akan semakin berkembangtatkala ibupun
menjadi seorang wanita pekerja dengan beralih
membantu perekonomiankeluarga ataupun berambisi
menjadi wanita karir, sehingga melupakan anak
dankeluarganya. Banyak ditemukan ibu menjadi
seorang superwoman yang bekerja duapuluh empat
jam sehari tanpa henti, barangkali waktu istirahat
ibu hanyalahbeberapa jam dalam sehari. Itupun jika
ibu mampu dengan cerdas mengelola waktubekerja
di luar rumah dan bekerja di rumah tangganya.
Ketika ayah dan ibu sibukdengan aktivitasnya
masing-masing, lalu ke manakah anak-anak
mereka? Anak yangseharusnya memiliki hak
mendapatkan kehangatan dalam keluarganya.
Kecenderungan yang terjadi, keluargamenjadi
pecah dan tidak jelas keberadaannya. Ketika ayah
dan ibu sudah tidakdapat berkomunikasi dengan
baik, karena kesibukan masing-masing atau
karenaegonya, maka mereka memilih untuk
bercerai. Namun, di saat orang tua
dapatmempertahankan keluarganya secara utuh
tanpa ada komunikasi yang hangat antaraanggota
keluarganya, secara psikologis merekapun bercerai.
Oleh karena orangtua tidak punya waktubanyak
untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya
untuk saling bertegursapa. Saat orang tua pulang
bekerja, anak sudah tertidur dengan lelapnya
dansaat anak terbangun tidak jarang orang tua
sudah pergi bekerja atau anaknyayang harus pergi
ke sekolah. Ketika anak protes dan mengeluh,
orangtua hanyacukup memberikan pengertian bahwa
ayah dan ibu bekerja untuk kepentingan anakdan
keluarga juga. Orang tua zaman sekarang sering
merasa kesulitan mengertikeinginan anaknya, tanpa
mereka sadari bahwa orangtualah yang selalu
membuatanak harus mengerti keadaan orang
tuanya.
Anak yang brokenhome bukanlah hanya anakyang
berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak
yang berasal darikeluarga yang tidak utuh, dimana
ayah dan ibunya tidak dapat berperan
danberfungsi sebagai orang tua yang sebenarnya.
Tidak dapat dimungkiri kebutuhanekonomi yang
semakin sulit membuat setiap orang bekerja
semakin keras untukmemenuhi kebutuhan hidup
keluarganya. Namun, orangtua seringkali
tidakmenyadari kebutuhan psikologis anak yang
sama pentingnya dengan memenuhikebutuhan hidup.
Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian,
sentuhan,teguran dan arahan dari ayah dan ibunya,
bukan hanya dari pengasuhnya atau pundari nenek
kakeknya.
Perhatian yang diperlukan anak dariorang tuanya
adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk
komunikasiverbal secara langsung dengan anak,
meski hanya untuk menanyakan aktivitassehari-
harinya. Menanyakan sekolahnya, temannya,
gurunya, mainannya, kesenangannya,hobinya, cita-
cita dan keinginannya. Ada anak di sekolah yang
merasa aneh, jikatemannya mendapatkan perhatian
seperti itu dari orang tuanya, karena
zamansekarang hal tersebut menjadi sangat mahal
harganya dan tidak semua anakmendapatkannya.
Anak sangat membutuhkan sentuhan dariorang
tuanya, dalam bentuk sentuhan hati yang berupa
empati dan simpati untukmembuat anak menjadi
peka terhadap lingkungannya. Selain itu, belaian,
pelukan,ciuman, kecupan, dan senyuman diperlukan
untuk membuat kehangatan jiwa dalamdiri anak dan
membantu anak dalam menguasai emosinya.
Arahan dibutuhkan oleh anak untukmemberikan
pemahaman bahwa dalam kehidupan bermasyarakat
ada aturan tidaktertulis yang harus ditaati dan
disebut sebagai norma masyarakat. Norma agama,
normasosial, norma adat atau budaya dan norma
hukum sebaiknya diberikan kepada anaksejak masih
usia kecil. Dengan diberikannya pemahaman dalam
usia sedinimungkin, diharapkan anak dapat menjadi
warga masyarakat yang baik, khususnyasaat anak
mulai mengenal lingkungan selain keluarganya.
Jika anak melanggar norma tersebut,sudah
merupakan kewajiban orangtua sebagai pendidik
pertama bagi anak-anaknyauntuk memberikan
teguran yang disertai penjelasan logis sesuai
denganperkembangan usianya supaya anak mengerti
dan memahami bagaimana bersikap danberperilaku
yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.
Dampak dari keegoisan dan kesibukanorang tua
serta kurangnya waktu untuk anak dalam
memberikan kebutuhannyamenjadikan anak memiliki
karakter mudah emosi (sensitif), kurang
konsentrasibelajar, tidak peduli terhadap
lingkungan dan sesamanya, tidak tahu sopansantun,
tidak tahu etika bermasyarakat, mudah marah dan
cepat tersinggung,senang mencari perhatian orang,
ingin menang sendiri, susah diatur, suka
melawanorang tua, tidak memiliki tujuan hidup, dan
kurang memiliki daya juang.

Sabtu, 16 Mei 2015

7 kalimat yg harus di biasakan..

1.BismIllahirrahmannirrahim-Setiap hendak melakukan sesuatu.

2.AlhamdulIllah-Setiap habis melakukan sesuatu.

3.AstagafirUllah-Jika melakukan sesuatu yg buruk.

4.InsyaAllah-Jika ingin melakukan sesuatu pada masa yg akan dtg.

5.Laa hawla walaaquwwata illaa billaah-Bila tidak dpt melakukan sesuatu yg agak berat/melihat hal yg buruk.

6.Innalillahi wainna ilaihi rojiun-Jika melihat/menghadapi musibah atau menerima kabar kematian.
7.Lailaha illAllah-Bacalah siang dan malam sebanyak-banyaknya.

Ada 2 pilihan utk anda :
1. Biarkan saja tulisan ini tanpa bermanfaat utk org lain.

atau

2. Anda sebarkan kepada semua kenalan anda.

Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yg menyampaikan ilmu saja dan ada org yg mengamalkannya, maka
walaupun yg menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala..

Amiiin yaa Robbal alamin... ����

Source : Dakwah Islam ❤️

Kamis, 14 Mei 2015

Nyawwwww im always here for you!

Boy : I need someone to talk to.
Girl : I'm always here for you
Boy : I know.
Girl : What's wrong?
Boy : I like her so much.
Girl : Talk to her.
Boy : I don't know. She won't ever like me
Girl : Don't say that... You are amazing.
Boy : I just want her to know how I feel.
Girl : Then tell her.
Boy : She won't like me.
Girl : How do you know that?
Boy : I can just tell her...
Girl : Well just tell her
Boy : What should I say??
Girl : Tell her how much you like her.
Boy : I tell her daily.
Girl : What do you mean?
Boy : I'm always with her. I love her...
Girl : I know how you feel. I have the same problem... But he'll never like me.
Boy : Wait, who do you like?
Girl : Oh, some boy.
Boy : Oh, she won't like me either.
Girl : She does.
Boy : How do you know?
Girl : Because who wouldn't like you?
Boy : You.
Girl : You're wrong. I love you.
Boy : I love you too.
Girl : So are you going to talk to her?
Boy : I just did.